Rabu, 25 Juli 2012

Manajemen keperawatan


TUGAS RESUME
MANAJEMEN KEPERAWATAN



OLEH :

ANDY TAKDIR
09.005.017



PROGRAM STUDY STRATA SATU (S1) KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES)
RUMAH SAKIT UMUM DAYA
MAKASSAR
2012






KONSEP DASAR MANAJEMEN KEPERAWATAN

1.      Definisi
Manajemen adalah membuat pekerjaan selesai ( getting things done). ( WHO, 1999 ) Menejemen adalah mengungkapkan apa yang hendak dikerjakan, dan kemudian menyelesaikannya. Dengan kata lain menejemen menentukan tujuan nya dahulu dengan pasti ( yakni menyatakan dengan rinci apa yang hendak dituju ) dan kemudian mencapainya. ( WHO, 1999 )
Manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan masyarakat. (Gillies, 1989).
Fungsi utama menejemen : perencanaan, penerapan ( implementasi ) dan eveluasi. Perencanaan mencakup rincian kriterian evaluasi, aturan, norma, yang akan dicapai dalam keputusan penerapan Dalam penerapan, menejemen berkaitan dengan pencapaian dan kinerja. Pada tahap penerapan harus diambil empat jenis utama keputusan. Keempat jenis keputusan pelaksanaan tersebut berhubungan dengan : koordinasi kegiatan, penempatan orang, pengolahan informasi. Evaluasi dipakai untuk keseluruhan proses pemeriksaan atau pengukuran dan penilaian akhir dari nilai. ( WHO, 1999 )

2.      Fungsi Manajemen Keperawatan
1)      Planning (perencanaan) sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi sampai dengan menyusun dan menetapkan rangkaian kegiatan untuk mencapainya, melalui perencanaan yang akan daoat ditetapkan tugas- tugas staf. Dengan tugas ini seorang pemimpin akan mempunyai pedoman untuk melakukan supervisi dan evaluasi serta menetapkan sumber daya yang dibutuhkan oleh staf dalam menjalankan tugas- tugasnya
2)      Organizing (pengorganisasian) adalah rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber data yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi.
3)      Actuating (directing, commanding, coordinating) atau penggerakan adalah proses memberikan bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara optimal dan melakukan tugas- tugasnya sesuai dengan ketrampilan yang mereka miliki sesuai dengan dukungan sumber daya yang tersedia.
4)      Controlling (pengawasan, monitoring) adalah proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi terhadap penyimpangan yang terjadi.

3.      Lingkup Manajemen Keperawatan
Keperawatan merupakan disiplin praktis klinis. Manajer keperawatan yang efektif seyogyanya memahami dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana. Manajer keperawatan mengelola kegiatan keperawatan meliputi:
1)      Menetapkan penggunaan proses keperawatan
2)      Mengetahui intervensi keperawatan yang dilakukan berdasarkan diagnose
3)      Menerima akuntabilitas kegiatan keperawatan yang dilaksanakan oleh perawat
4)      Menerima akuntabilitas hasil kegiatan keperawatan
Berdasarkan gambaran diatas maka lingkup manajemen keperawatan terdiri dari:
1)      Manajemen operasional (manajemen pelayanan keperawatan)
2)      Pelayanan keperawatan di RS dikelola oleh bidang perawatan yang terdiri dari 3 tingkatan manajerial yaitu:
-          Manajemen puncak (kabid keperawatan)
-          Manajemen menengah (kepala unit pelayanan atau supervisor)
-          Manajemen bawah (kepala ruang perawatan)
Tidak setiap orang memiliki kedudukan dalam manajemen berhasil dalam kegiatannya. Faktor yang harus dimiliki manajeer adalah:
1)      Kemampuan menerapkan pengetahuan
2)      Ketrampilan kepemimpinan
3)      Kemampuan menjalankan peran sebagai pemimpin
4)      Kemampuan menjalankan fungsi manajemen
5)      Manajemen asuhan keperawatan
6)      Manajemen asuhan keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang menggunakan konsep- konsep manajemen didalamnya seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atau evaluasi.
7)      Proses keperawatan adalah proses pemecahan masalah yang menekankan pada pengambilan keputusan tentang keterlibatan perawat yang dibutuhkan pasien.
8)      Pengkajian merupakan langkah awal dalam proses keperawatan yang mengharuskan perawat menentukan setepat mungkin pengalaman masa lalu pasien, pengetahuan yang dimiliki, perasaan dan harapan kesehatan dimasa mendatang.
9)      Pengkajian ini meliputi proses pengumpulan data, memvalidasi, menginterpretasikan informasi tentang pasien sebagai individu yang unik.
10)  Perencanaan intervensi keperawatan dibuat setelah perawat mampu memformulasikan diagnosa keperawatan
11)  Pelaksanaan merupakan penerapan rencana intervensi keperawatan merupakan langkah berikut dalam proses keperawatan
12)  Evaluasi merupakan pertimbangan sistematis dari standart dan tujuan yang dipilih sebelumnya dibandingkan dengan penerapan praktek yang aktual dan tingkat asuhan yang diberikan.
Keempat langkah dalam proses keperawatan ini berlangsung terus menerus dilakukan oleh perawat melalui metode penugasan yang telah ditetapkan oleh para manajer keperawatan sebelumnya.

4.      Prinsip Manajemen Keperawatan
a.       Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan, karena melalui fungsi perencanaan pimpinan dapat menurunkan resiko kesalahan, memudahkan pemecahan masalah
b.      Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai waktu yang telah ditentukan
c.       Manajemen keperawatan melibatkan para pengambil keputusan. Berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi saat mengelola kegiatan keperawatan memerlukan keterlibatan pengambil keputusan diberbagai tingkat manajerial
d.      Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer keperawatan dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien  merupakan point utama dari seluruh tujuan perawatan
e.       Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan
f.       Divisi keperawatan yang baik dapat memotivasi perawat untuk memperlihatkan penampilan kerja yang terbaik
g.      Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif
h.      Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan perawat.
i.        Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi: penilaian pelaksanaan yang rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi, menetapkan standart dan membandingkannya dengan penampilan serta memperbaiki kekurangan yang terjadi.
Berdasarkan prinsip diatas maka hendaknya manajer keperawatan  bekerjasama dengan perawat dan staf dalam perencanaan dan pengorganisasian untuk mencapai tujuan yang telah dicapai sebelumnya

5.      Pilar – pilar dalam Model Praktik Keperawatan Professional (MPKP)
Dalam model praktik keperawatan professional terdiri dari empat pilar diantaranya adalah:
a.       Pilar I : pendekatan manajemen keperawatan
Dalam model praktik keperawatan mensyaratkaan pendekatan manajemen sebagai pilar praktik perawatan professional yang pertama. Pada pilar I yaitu pendekatan manajemen terdiri dari:
1)      Perencanaan dengan kegiatan perencanaan yang dipakai di ruang MPKP meliputi (perumusan visi, misi, filosofi, kebijakan dan rencana jangka pendek ; harian,bulanan,dan tahunan)
2)      Pengorganisasian dengan menyusun stuktur organisasi, jadwal dinas dan daftar alokasi pasien.
3)      Pengarahan
Dalam pengarahan terdapat kegiatan delegasi, supervise, menciptakan iklim motifasi, manajemen waktu, komunikasi efektif yang mencangkup pre dan post conference, dan manajemen konflik
4)      Pengawasan
5)      Pengendalian.
b.      Pilar II: sistem penghargaan
Manajemen sumber daya manusia diruang model praktik keperawatan professional berfokus pada proses rekruitmen,seleksi kerja orientasi, penilaian kinerja, staf perawat.proses ini selalu dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawatan baru.
c.       Pilar III: hubungan professional
Hubungan professional dalam pemberian pelayanan keperawata (tim kesehatan) dalam penerima palayana keperawatan (klien dan keluarga). Pada pelaksanaan nya hubungan professional secara interal artinya hubungan yang terjadi antara pembentuk pelayanan kesehatan misalnya antara perawat dengan perawat, perawat dengan tim kesehatan dan lain – lain. Sedangkan hubungan professional secara eksternal adalah hubungan antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan.
d.      Pilar IV : manajemen asuhan keperawatan
Salah satu pilar praktik professional perawatan adalah pelayanan keperawat dengan mengunakan manajemen asuhan keperawatan di MPKP tertentu. Manajemen asuhan keperawat yang diterapkan di MPKP adalah asuhan keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan

6.      Proses Manajemen Keperawatan
Proses manajemen keperawatan menurut Nursalam (2007) yaitu:
1)      Pengkajian- pengumpulan data
Pada tahap ini seseorang manajer dituntut tidak hanya mengumpulkan informasi tentang keadaan pasien, melainkan juga mengenai institusi (rumah saki atau puskesmas):’’ tenaga keperawatan, administrasi, dan bagian keuangan yang akan mempengaruhi fungsi organisasi keperawatn secara keseluruhan. Manajer perawat yang efektif harus mampu memanfaatkan proses manajemen dalam mencapai suatu tujuan melalui usaha orang lain.
2)      Perencanaan
Menyusun suatu perencanaan yang strategis dalam mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Perencanaan disini dimaksud untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan kepada semua pasien, menehgakkan tujuan, mengalokasikan anggaran belanja, menetapkan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan.
3)      Pelaksanaan
Manajemen keperawatan yang memerlukan kerja melalui orang lain, maka tahap implementasi dalam proses manajemen terdiri atas bagaimana manajer memimpin orang lain untuk menjalankan tindakan yang telah direncanakan.
4)      Evaluasi
Tahap akhir manajerial adalah mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai seberapa jauh staf mampu melaksanakan perannya sesuai dengan organisasi yang telah ditetapkan serta mengidentifikasi faktor – faktor yang menghambat dan mendukung dalam  pelaksanaan.



PERUBAHAN PENATAAN MODEL PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN

Pelayanan asuhan keperawatan yang optimal akan terus sebagai suatu tuntutan bagi organisasi pelayanan kesehatan. Saat ini terdapat suatu keinginan untuk mengubah sistem pemberian pelayanan kesehatan ke sistem desentralisasi. Dengan meningkatnya pendidikan bagi perawat, diharapkan dapat memberikan arah terhadap pelayanan keperawatan berdasarkan pada isu di masyarakat.
Sejak diakuinya keperawatan sebagai profesi dan ditumbuhkannya Pendidikan Tinggi Keperawatan (DIII Keperawatan, PSIK) dan berlakunya Undang-undang No. 23 Tahun 1992, dan Permenkes No. 1239/2001; proses registrasi dan legislasi keperawatan, sehingga diharapkan UU Praktik Keperawatan di masa depan, adalah bentuk pengakuan adanya kewenangan dalam melaksanakan praktik keperawatan profesional.
Akan tetapi pelaksanaan Permenkes tersebut masih perlu mendapatkan persiapan-persiapan yang optimal oleh profesi keperawatan. Hal ini disebabkan adanya beberapa kendala yang dihadapi, meliputi:
1)      Belum adanya pengalaman dalam memberikan pengakuan terhadap praktik keperawatan;
2)      Belum dipahami wujud dan batasan dari praktik keperawatan sebagai praktik keperawatan profesional;
3)      Jenis dan sifat praktik keperawatan profesional yang harus dikembangkan.
Bertolak dari keadaan di atas, maka perlu dikembangkan adanya model praktik keperawatan yang perlu dan pantas diujicobakan, kemudian dikembangkan. Hal ini bisa dicapai dengan memberikan pengalaman belajar Praktik Klinik kepada mahasiswa (DIII, Ners), sehingga diharapkan mutu pelayanan kesehatan bisa meningkat.
1.      Peningkatan Kualitas Pelayanan Keperawatan
Setiap upaya untuk meningkatkan pelayanan keperawatan, kita selalu berbicara mengenai kualitas, karena kualitas sangat diperlukan untuk:
1)      Meningkatkan asuhan keperawatan kepada pasien/konsumen.
2)      Menghasilkan keuntungan (pendapatan) institusi.
3)      Mempertahankan eksistensi institusi.
4)      Meningkatkan kepuasan kerja.
5)      Meningkatkan kepercayaan konsumen/pelanggan.
6)      Menjalankan kegiatan sesuai aturan/standar.
2.    Pelaksanaan Standar Praktik Keperawatan
Standar Praktik Keperawatan di Indonesia disusun oleh Depkes RI (1995) yang terdiri atas beberapa standar.
Menurut JCHO: Joint Commission on Accreditation of Health care Organisation (1999: 1: 4: 249-54) terdapat 8 standar tentang asuhan keperawatan.
Standar intervensi keperawatan yang merupakan lingkup tindakan keperawatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia (14 KDM dari Henderson).
1.      Oksigen
2.      Cairan dan elektrolit
3.      Eliminasi
4.      Kebersihan dan kenyamanan fisik
5.      Keamanan
6.      Istirahat dan tidur
7.      Gerak dan jasmani
8.      Spiritual
9.      Emosional
10.  Komunikasi
11.  Mencegah dan mengatasi resiko psikologis
12.  Pengobatan dan membantu proses penyembuhan
13.  Penyuluhan
14.  Rehabilitasi
3. Model Praktik Praktik
(1) Praktik Keperawatan Rumah Sakit
Perawat profesional (Ners) mempunyai wewenang dan tanggung jawab melaksanakan praktik keperawatan di rumah sakit dengan sikap dan kemampuannya. Perlu dikembangkan pengertian praktik keperawatan rumah sakit dan lingkup cakupannya sebagai bentuk praktik keperawatan profesional, proses dan prosedur, registrasi, dan legislasi keperawatan.
(2) Praktik Keperawatan Rumah
Bentuk Praktik Keperawatan Rumah diletakkan pada pelaksanaan pelayanan/asuhan keperawatan sebagai kelanjutan dari pelayanan rumah sakit. Dilakukan oleh perawat profesional rumah sakit, atau melalui pengikutsertaan perawat profesional yang melakukan praktik keperawatan berkelompok.
(3) Praktik Keperawatan Berkelompok
Dengan pola yang diuraikan dalam pendekatan dan pelaksanaan praktik keperawatan rumah sakit dan rumah, beberapa perawat profesional membuka praktik keperawatan selama 24 jam kepada masyarakat yang memerlukan asuhan keperawatan untuk mengatasi berbagai bentuk masalah keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat. Bentuk praktik keperawatan ini dipandang perlu di masa depan, karena adanya pendapat, lama hari rawat di rumah sakit perlu dipersingkat mengingat biaya perawatan di rumah sakit diperkirakan akan terus meningkat.
(4) Praktik Keperawatan Individual
Dengan pola pendekatan dan pelaksanaan yang sama seperti yang diuraikan untuk praktik keperawatan rumah sakit. Perawat profesional senior dan berpengalaman dapat secara mandiri/perorangan membuka praktik keperawatan dalam jam praktik tertentu untuk memberi asuhan keperawatan khususnya konsultasi dalam keperawatan bagi masyarakat yang memerlukan. Bentuk praktik keperawatan ini sangat diperlukan oleh kelompok/golongan masyarakat yang tinggal jauh terpencil dari fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya yang dikembangkan pemerintah.
PERUBAHAN MODEL SISTEM PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN
Sejalan dengan perkembangan dan perubahan pelayanan kesehatan yang terjadi di Indonesia, maka model sistem asuhan keperawatan harus berubah mengarah pada suatu praktik keperawatan profesional. Model sistem asuhan keperawatan yang dapat dikembangkan adalah
1.      Tim,
2.      Primer,
3.      Kasus 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar